Thursday, February 13, 2014

4 Valentine

2011 - 02 - 13
Minggu. Kita ketemu.
Kita haha hihi huhu huhu ho-oh ho-oh.
Gandaria City lantai paling bawah.
Kamu ajak jadian akunya ogah.

2011 - 02 - 14
Sehari setelah itu.
Kamu lagi cinta-cintanya, aku lagi bingung gimana nolaknya.
Kamu keukeuh paksa-paksa, akhirnya aku bilang jalanin aja.

--------------------------------------------------

2012 - 02 - 14
Vietopia Senopati.
Setahun setelah kata "jalanin aja", kita pesta.
1st anniversary dinner ceritanya. Kayak abege aja.

---------------------------------------------------

2013 - 02 - 14
F(x) punya Hanamasa.
Modal menang voucher dari linimasa.
Sama-sama tau kalo perpisahan jarak sudah dekat waktunya terasa.
Lagi-lagi ya udah jalanin aja. Masa depan yg tau cuma Sang Kuasa.

---------------------------------------------------

2014 - 02 - 14
Kamu Jakarta, aku Jayapura.
Dan kita masih sama-sama.
Awet ya?

---------------------------------------------------

Thank you Koko, .for the 4th Valentine..
Thanks for being you for all these years
Thank you, Thank you, and Thank you
With love, your Dede' Diq-yang-nungguin-cincin-berlian-baru
(LOL. Matre amatan sih)



Tuesday, January 28, 2014

Gay Labil

Helloh... Helloh....
Gimana kabar di tahun 2013.a ini? Semoga tambah bahagia sehat sentaosa ya. Sorry, gak pake "2014" lebih suka pake 2013.a (atau 2013s ngikutin tipe hape yg belum kebeli sampe sekarang). Angka 4 dianggap kurang bagus soalnya buat keturunan china dan yg pacarnya china kayak aku ini. Mohon mengerti. Trims. 

Dari akhir taun sampe awal tahun ini akunya ini ngerasa rada-rada gak stabil secara mental deh. Bukan... Bukan labil nentuin jati diri aku ini sebenernya gay, straight, atau biseks sih. Itu mah udah punya jawaban yg dipatenkan di Kemenkum HAM. Kelabilan memababi buta ini ntah deh kenapa, padahal gak lagi program penyuntikan hormon, gak lagi mens (yekali gay bisa mens kan? Ngeri amat). Mbuhlah. Ada yg ngetweet, katanya sih emang kalo pergantian tahun manusia-manusia di bumi suka begitu, suka gak stabil, efek dari grafitasi. Seberapa persen kebenarannya juga gak tau, dulu pas SMP disuruh ikutan olimpiade astronomi tak tolak soalnya (lha hubungannya?).

Ngomongin soal kelabilan dan hubungannya dengan kerajaan perbinanan. Jelas ada. Gak sedikit malah.

Masih inget pertama kali nyadar kalo ada yang beda di dalem diri gak? Beda kok sukanya sama laki? Kenapa gak suka perempuan kayak anak-anak tetangga yang lain? Labil kah kalian saat itu wahai kaum sekalian umat? Apaaahhh iya? Wah banyak juga yang jawab iya.

Kalo seingetku, aku sendiri sih ngga ada ngerasa labil pas sadar akunya ini homo. Ya gimana mau labil, wong udah sadar diri ini homo dari jebret melek lahir ke dunia. Ya atau se-nggak-nggak-nya dari kecil lah pokoknya udah kayak ngeh aja kalo emang beeedddhhaaaa. *setel lagunya Mario Ginanjar yg judulnya Beda*. Jadi pas beranjak remaja kinyis-kinyis aku udah ngga terbelenggu kelabilan karena terjangkit kehomoan. Pret.

Malah kayaknya dulu yg labil emak-bapakku. Masih inget zaman aku TK pernah dibawa ke psikolog di RSAL di daerah Surabaya. Mungkin mereka was-was kok ngeliat kecenderungan anaknya yg beeeeddhhaaaa dari anak-anak seumurannya. Satu-satunya hal yg aku inget sampe sekarang cuma aku disuruh gambar sesosok laki dan sesosok perempuan trus setelah kelar ngegambar, si dokter itu nanyain kenapa kok gambarnya gini, kenapa kok gambarnya gitu. Trus ngajak bapakku buat ngobrol berdua. Mungkin ngomongin hasil dari test-nya tadi itu. Ntah sih artinya apa. Coba adakah psikolog di sini yg bisa menjelaskan? Anyone? Anytwo? Anythree?

Ok cukup tentang akunya.

Sempet nanyain isu kelabilan hal ini ke beberapa temen dan denger cerita lainnya. Gak cuma satu dua ternyata yg sempet melewati fase labil. Beberapa mengalami fase labil waktu SMA, beberapa labilnya waktu kuliah, dan ada aja sih yg lebil waktu udah kerja. Tergantung kapan mereka sadar ada sesuatu yg spesial ternyata dalam diri mereka. (Iya, spesial karena telornya dua). Dan tingkat kelabilannya berbeda-beda setiap orangnya.

Misalnya si A. Pas aku tanya pernah ngga ngerasa ada guncangan kejiwaan (yoloo lebay amatan sih) saat pertama kali sadar kalo prefer batangan, dia jawab sempet. Tapi ngga sampe tahap depresi yang gimana banget. Ya soalnya fase labil itu dilaluinya berbarengan dengan fase berbunga-bunga karena lagi cinta-cintaan monyet sama pacar laki pertamanya. Dan sampe sekarang sih dia masih idup-idup aja.

Trus beda lagi sama si B. Dia discover kalo dirinya gay itu waktu kuliah di Aussie puluhan tahun silam (iya yg ini skrg orangnya udah matang. Sudah cukup umur kita panggilo gadun. Tapi masih ganteng. Hahahah). Dia cerita kalo dulu labilnya kebangetan pas memasuki dunia gay. Hampir stress. Dia pergi ke pastor di sana buat penebusan dosa dan ngaku kalo gay ke itu pastor. Ya pasti lah si pastor nyuruh brenti buat jadi gay dan kembali ke jalan yang (dianggap) lurus. Cukup sampe dateng ke pastor dan labilnya sembuh? Ngga. Dia bahkan cerita beberapa kali dulu dia ke psikiater saking stress-nya mau menerima diri bahwa emang dia sebenernya gay.

Ada lagi si C. Labilnya sampe sekarang masih. Ngeselin. Dunia udah tau dia suka lakik, tapi masih labil aja disuruh pacaran sama lakik gak mau, disuruh bobo-bobo manja sama laki gak mau. Hih. Maunya apa coba? Apaaaa???? Dia kayaknya labil mau menapakkan kaki ke jenjang berikutnya di dunia per-gay-an ini. Masih mau nyaman di satu anak tangga.Labil mau melangkahkan kaki ke anak tangga berikutnya apa ngga, mundur juga kayaknya ngga bisa.

Masih banyak cerita kelabilan-kelabilan kaum gay tercinta ini di luaran sana. Ada yg sampe jedot-jedotin kepala ke tembok, yang mood-nya ibarat ombak di laut Aru; Yang kadang seneng banget dan cinta banget sama laki, sedetik kemudian teriak-teriak di kamar "kenapa guveh gaaayyyy ya Tuhan? Kenapaaaahhh?". Ih minta ditampar kan yg model begini. Tapi jangan digampar ding, mending kita kasih konseling biar gak galau-galau labil gak jelas lagi.

Pada akhirnya, kita kudu mengakui sih, gak sedikit  yg mengalami turbulensi hati dalam proses penerimaan jati diri seorang gay ini memang; Cuma ya semakin ke sini diharapkan kita sama-sama saling dewasa dalam menanggulanginya. Ngobrol lah dengan teman-teman atau orang-orang yg dikira suportif, yang mau merangkul perbedaan kita. Jangan sering-sering ngobrol sama yg kontra sama isu percintaan sejenis. Takutnya ngana malah labilnya akut sampe bunuh diri. Kan gak mau juga akunya. Banyak baca lah di kolom Good News Form Kerajaan Gay (@GNFKG). Hihihihi becanda ding. Gak ada itu account @GNFKG. Tapi intinya adalah jangan jejelin otak sama berita-berita negatif soal gay. Asupilah otak dengan berita-berita positif dan membanggakan. Ada? Banyaaakkk... Dengan begitu gak akan menganggap rendah diri sendiri menjadi gay, menjadi beda. Yakin deh.

Oke deh. Segitu aja postingan kali ini.

Burung Irian, Burung Cendrawasih.
Cukup Sekian, dan terima kasih.

Burung Irian keriting jembrewinya.
Salam cinta buat kalian, salam tempel dong ke akunya.




Wednesday, December 25, 2013

Selamat Natal, Jangan Gatal!




SELAMAT NATAL
SEMOGA DAMAI KASIH BESERTA KALIAN
SEMOGA KEKASIH PUN DI SAMPING KALIAN


Selamat merayakan Natal buat teman-teman semuanya yang merayakan. Dan selamat liburan bagi yang tidak merayakan. Natal kali ini aku gak ada di samping kekasih, tapi cinta dan kasihku pasti selalu menemaninya (hihihi). Dan karena tau rasa gak enaknya Natalan jauh dari pacar, makanya aku berharap kalian merayakan Natal ini dengan kekasih beserta orang-orang terkasih. 

Sebenernya pingin sih punya foto tema Natal yang agak-agak nakal dan gatal. Ngikutin foto di atas dan ngikutin koko-koko homo yg ngucapin selamat Natal di IG dengan topless-nya dan topi santanya, atau dengan topless-nya beserta tanduk-tandukan rusanya. Uber sexy...... 

Tapi ya berhubung badanku gak kece-kece amat buat dipamerin, lemak-lemak masih bergelantungan, dan pastinya gak bakal diizini juga sama pacar, akhirnya sirnalah kesempatan kalian menikmati keiindahan tubuhku ini. Kenapa yakin gak bakal diizin sama pacar? Ya coba ngana pikir aja, Lebaran kemaren aku foto pake baju koko nan islami dengan sarung menggantung di dada ala-ala Abang Jakarta gitu aja dia marah. Katanya pamer body. Padahal kan aku cuma pamer paha ke bawah. (Iya, fotonya bottom-less ceritanya. Baju mah pake, celana kagak. Hihihihi).

Once again selamat Natal yaaahh... Feliz Navidad! Muach!