Saturday, September 13, 2014

Ceplak Ceplok Suara Cipok

Brace yourself, jangan lupa siapin banyak-banyak istiqfar baca postingan satu ini, karena Diq yang biasanya nulis baik-baik dan penuh sopan-santun kali ini mau nulis yang agak vulgar. Hihihihi


---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Pernah make love kan? Ngaku aja deh! Kamu, kamu, kamu pasti pernah. Yang belum pernah ya cuma aku. Gak ada yang mau soalnya. Hiks (Sok merendah). Kadang kita saat berintim ria (HA? KITAAA??? ELO AJA KALI SAMA NENEK ELO #jokebasi). Ok, abaikan. Kadang saat make love sama orang yang kita cintai, suka kebawa enak sampe hilang kendali gitu gak sih? Saat bener-bener enak, kita melenguh. Saat kegelian melenguh lagi. Saat ujungnya masuk dikit, melenguh lagi. Hihihihi. Wajar sih emang. Yang gak wajar tuh kalo pas keenakan, pas kegelian, pas kesakitan cuma bisa diem kayak seonggok gedebog pisang, dengan muka lempeng tanpa ekspresi kaya' mukanya Anna Wintour. Meeehhh.....

Nada-nada indah yang dihasilkan saat dua insan (atau lebih) sedang bercinta gak cuma dari mulut lho keluarnya. Bisa dari denyitan ranjang; Suara gesper yang dibuka; Suara pakaian kita yang tertanggal dan menyentuh lantai; Daaannnnn suara ceplak ceplok saat dua kelamin bertemu (atau tepatnya saat sebuah kelamin bertemu dengan sebuah meki artifisial. Hihihihi). 

Aku akui sih ya guys, emang denger suara ceplak-ceplok yang kita hasilkan berdua dengan pasangan kita itu malah meningkatkan libido kita. Jadi tambah terbakar gitu rasanya nafsu ini. Gaunnya si Katnis Everdeen aja kalah berapi-api dalam hal ini. Tapi guys, meskipun enak, perkenankan lah saya, selaku tuan rumah dari blog ini untuk menyampaikan sepatah dua patah kata yang kudu kita ingat dalam hal percipokan ini.

KONTROL!!! Yang paling penting ini emang kontrol kita terhadap saura yang kita hasilkan. 

Jangan melenguh kenceng-kenceng!!!! 
Tolong digaris bawahi pake stabilo pink ya, bahwasanya kegiatan intim yang kita lakukan ini cukup jadi konsumsi kita sendiri. Kecuali ngana emang pingin jualan video kaya' si Gumay25. Kalo privacy kita mau dihargai, kita juga harus menghargai privacy orang lain. Gak ada salahnya sih mau ML di kosan karena sewa hotel mahal. Tapi ya kalo mau anonoh di kosan, jangan sampe seisi kosan bisa denger suara kalian cipokan. Dikira yang denger bakal horny apa? Ngga keleesss!!! Yang denger malah deg-degan lemes (eh itu guveeehh). Ibarat kendaran motor yang mengeluarkan asap hitam, suara erangan kalian ini polusi lho bagi yang mendengar. Jadi please dikontrol volumenya. Syukur-syukur kalo temen kosannya semua bisa sabar dan menerima suara lenguhan kalian dengan baik. Coba punya temen kosan yang jahat, iihhh bisa-bisa dilaporin ke ibu kosan, trus digrebek sekampung trus diarak keliling kompleks. Gak lucu kan? 
Dalam hal melenguh, fals itu diperbolehkan. Yang tidak diperkenankan adalah melenguh hingga delapan oktaf atau melenguh disisipi whistle -ya kok sempet sempetnya-. Situ bukan diva!! Bukan Mariah Carey!!! Mimi aja ML gak pake nada berima kok.


Jangan kesetanan!!!
Sering kan liat bokep atau bahkan pengalaman pribadi kalo pas lagi hot-hotnya, gerakannya jadi menggila, kayak kesetanan gitu. Gerakan roda kereta api aja jadi juara dua dibanding gerakan penuh semangat dibakar nafsu ini. Kenapa gak boleh? Inget, gerakan kesetanan seperti ini bisa mengakibatkan ranjang kayu kalian bersuara, atau per-per di spring bed kalian ikutan berbunyi. Kan sayang kalo ranjangnya rusak. And again, bisa didengar oleh orang lain. Ih apa lagi kalo ngelakuinnya di rumah orang tua kamu. Pake ada suara-suara begini. Bisa langsung disidang di depan penghulu kalian. Mau????? (aku sih mau). Hahahahha


Sayangi Lobangmu
Honey, situ udah lobok oke. Udah gak rapet ok. Jarang cebok pake daun Sirih Manjamani sih, jadinya lobok kan. Tapi please gak usah juga mengumbar-umbar kelobokan dengan suara ceplak-ceplok pas anunya pacarmu masuk menghujamimu gitu sih. Pedih gitu dengernya. Bisa jadi bahan gosip lho.
"eh eh Jeung, tau gak si itu udah ngga rapet?"
"lho kamu tau dari mana? Kamu pernah sama dia?"
"tinta lah ya Jeung. Role kami sama. Itu, masa' ya Jeung tengah malem aku denger dia ML di kamar sebelah. Suara lobangnya digali kenceng bener Jeung. Lobok apa ledes sih ya Jeung"

Tuh contoh bahan gosipnya. Gak mau kan? Makanya pelan-pelan. Kalo mau wild sex jamgan di kos. Di hutan Papua sana. Masih luas. Kalo ewi di kos, jangankan yg pembatasnya triplek, yg pembatasnya baja aja masih mungkin kedengeran. Hahahaha (lebay).


Yaudah. Pokoknya inget ya. Kalo ML dikontrol suaranya. Jangan jerit-jerit.. Gak usah acting kayak diperkosa padahal zeneng diewi. Jangan juga belum dijamah udah mendesah-desah. Illfeel ntar partner ngana. Mendesah lah sesuai kebutuhan. Bahwa sesungguhnya Tuhan membenci desahan yg mubazir dan berlenihan.



Monday, September 1, 2014

Berbagi

Semalem di sepertiga malam aku terbangun. Bukan buat tahajud sih gak mungkin banget kayaknya itu. Di pekatnya malam di saat semua iblis berjuang keras membuat manusia agar tetap pulas, akunya terjaga (ngontrolin anak buahku -para iblis- untuk tetap bekerja meninabobokan keturunan Adam-Hawa). Yakaliiiii bakal pada percaya. Semalem terlintas aja, udah ngapain aja sih aku buat kemajuan perhomoan di Indonesia ini. Serius banget kan ya rasa-rasanya.


Kenapa tiba-tiba bisa terlintas pikiran gitu coba? Iseng banget gitu emangnya hidupku? Ngga juga sih, hidupku cukup sibuk kok. Pagi sampe sore duduk manis di kantor kikir-kikir kuku, baca majalah lifestyle, nge-roll rambut, ngupil, nyuapin Pak Boss, kikir-kikir kuku lagi, bukain touchemagz , hihihihi begitu lah. (Maaf ya rakyat, tapi aku gak korupsi kok). 

Sebelumnya sempet chat sama temen sekampus dulu, cewek, dia cerita di kampung dia luamayan aktif buat berbagi ilmu ke teman-temannya yang LGBT. Ngajarin macem-macem, ngajarin bahasa Inggris, keterampilan ini itu, pengetahuan ini itu, current issue, dan sosialisasi soal kondom. Ih pas denger dia aktif gitu aku beneran kayak di tampar. Yoloooo dia baik hati sekali, mau gitu berbagi, lha aku apaaaa?? Apaaaa??? Belom pernah ngapa-ngapain demi kemajuan bangsa dan kerajaan Gay ini. 

Hiks
Hiks
Hiks
Hayati sedih Bang.
Sedih mikirin kok kayaknya belum ada gunanya aku hidup. Katanya kan sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang berguna bagi manusia lainnya. Bagi kelompoknya. Bagi nusa dan bangsanya Lha aku? 
Hiks



Aku kudu ngapain? Ngapain? Ngapaian? Apa aku ikuti aja jejak Mbak Butet Manurung yang buka Sokola Rimba? Bisa sih ya. Ntar nama sekolahku jadi Seks-ola Rimba. Program belajar seks dan olahraga di hutan liar Papua. Hahaha. Hahahaha. Hahaha (gak lucu sih, tapi mau pura-pura ketawa aja biar kesannya rame).  Mau ikutan jadi aktivis aktivis LGBT tapi di sini kayaknya gak ada. Mau bikin buku "Pengenalan Binan Sejak Dini" tapi ntar aku dibedil Mbak Fahira Idris. Mau jadi motivator pentingnya menumbuhkan jiwa gay di dalam diri tapi ntar disangka bipolar kayak Mbak Marshanda (korelasiiii????)

Trus mau ngarep buat jadi pemateri di Diklat Pentingnya Coming Out Bagi Pegawai Kementerian XXXXX, tapi ya Kementerian ini gak ada rencana bikin program begituan. Kan sedih. Wong soale kayaknya pengetahuanku cuma ngutek di sekitaran ini aja. Mau ngarep pengetahuan apa yang aku bagi? Masak? Gih sama Bu Siska aja. Aku mah gak bisa ngulek sambil. Ngulek laki baru bisa (eeehhhh).


Tapi bener sih, usaha yang aku bisa selama ini cuma pendekatan personal aja, dari temen ke temen, buat menerima diri mereka seutuhnya yang gay buat gak labil orientasi. Selebihnya untuk sekarang belum sih. Mungkin nanti. Ya doakan aja lah ya. Namanya juga masih newbie. Selaput keperjakaan aja belum pecah. Maklum lah.

Kalo kamu sendiri gimana? Apa sih yang udah pernah kamu laku kan -tindakan nyata dalam dunia perhomoan selain saling bantu membantu gotong royong dalam hal memuaskan syahwat? Pernah berbagi apa sih selain berbagi peluh dan berbagi pe*uh? Yuk sharing. Bisa telp atau sms ke 081289xxxxx atau mention kami di twitter @GayKampungMasukKota. Kami tunggu ya. Tiada kesan tanpa desahanmu.

(Diq calon penyiar radio)

Wednesday, August 27, 2014

Terapi Straight

"Aku dikasih terapi kayak hypno gitu. Tapi belum ada hasil. Katanya sih musti berulang-ulang. Aku baru empat kali pertemuan"


Seorang teman sebut aja namanya Adi ngirimin capture-an chat temennya yang isinya kurang lebih kayak di atas itu. Si Adi ini cerita kalo temennya (yang selanjutnya akan kita sebut BilBil) ini ikut hypno buat jadi straight.

*long pause*
*long pause*
*long pause*



(Yaiyalah long pause, wong dia ngirimin udah jam 22.00 WIB yang mana itu artinya udah 24.00 WIT. Akunya pasti udah tertidur lelap selelap Cinderella demi menjaga kesegaran kulit. Eh, bukan Cinderella ya Disney Princess yang kerjaannya cuma tidur doang? Ya itu lah pokoknya)

Awalnya akunya gak percaya. Pasti si temenku ini boongin aku. Pasti ini hypno lain. Buat ngurangin kebiasaan rokok, atau bengek atau ngorok kenceng; anything lah but hypno buat straight. Dia suka boong soalnya. Dan aku target yang empuk buat diboongin karena aku kan polos, mudah tertipu daya buaian pria, maklum lah aku kan dari kampung, lugu.


Eh gak taunya beneran. Ini cerita nyata kalo si temen-sekampumngnya-temen-ku ini ikut hypno terapi buat jadi straight. It's like whaaaaaaaaddddddddd gak sih. Gak tahan lah akunya ini buat nyinyirin ini itu. Namanya juga mulut binan ya, gak nyinyir gak afdol.

Konon cerita si BilBil ini udah ke psikolog, curhat-curhatan sama psikolog kalo dia pingin jadi straight aja gak mau jadi gay lagi. Lelah lahir batin mungkin. Terus si psikolognya nyerah, angkat tangan, angkat kaki (ke pundak si BilBil biar lebih gampang masuknya. ---Eeeehh kok jadi stensilan--). Curiga ya si psikolog-nya juga gay, makanya nyerah nanganginnya (ya psikolog mana sih yang gak gay? hahahaha plak plak plak *tampar diri sendiri karena terlalu judgmental*. Trus si psikolog nyaranin si BilBil buat ikutan terapi ini. Terapi straight (Tuh kaaannnn pasti si psikolog pernah nyobain ikutan terapi yang sama, makanya dia tau)

Duh gpp ya kalo aku suka ngejudge, soalnya ini pedomanku


Ok lanjut. Quote barusan ibarat 3 perempuan negro besar lagi nyanyi ngehibur penonton di konser Beyonce pas Mbak Bee lagi ganti baju (cuma selingan doang -red). Oh Yes I am Beyonce!!! Pret.



Setelah ditelisik dari pergunjingan yang aku sama Adi lakukan ini, ternyata dulu dua orang ini ibarat Shireen & Zaskia Sungkar dari The Sisters, ibarat Tika dan Tiwi-nya T2 dan ibarat Dina-Kiki mantan TKW Hongkong yang bergabung jadi Duo Sabun Colek. Berdua serasi punya impian ang sama, sama-sama ingin keluar dari lingkaran kenikmatan homo dan menjadi lelaki straight seutuhnya (sungguh cita-cita yang mulya bukan?). Tapi namanya hidup selalu dinamis ya guys... Idealisme Duo Straight Wanna Be ini terpecah belah. Yang satu murtad dan memutuskan untuk terbawa arus dunia perhomoan yang membuatnya nyaman, yang satu masih berkutat dan berjuang untuk memerdekakan dirinya dari belenggu percintaan sesama jenis sampe akhirnya harus ikut hypno. Perjuangan yang sungguh patut kita apresiasi (preeett).


Trus trus trus nih ya bahan gunjingan lagi ya, gimana mau mengapresiasi usahanya si BilBil buat jadi straight coba, kalo kenyataannya dia masih ndekem satu kontrakan sama brondongnya. Minta banget kan dinyinyirin. Ini ibarat aku yang bercita-cita punya rumah sendiri tapi nabung aja gak pernah bisa. Gak akan terwujud!!!! Impossiblee eeelll eeelll... Impossiblee eeelll eeellll *lalu suaraku meng-cover lagunya Shontelle mengalun dengan indahnya*. Mas BilBil, tolong ya, kalo bikin cita-cita itu kudu disesuaikan. Inget action plan Mas... Inget action plan.... Putusin dulu brondongmu, usir dia dari kontrakan, dan baru lah dateng ikutan hypno terapi buat jadi straight. 


"Trus Diq, kalo udah mutusin pacarnya, udah ngusir pacarnya dari rumah, udah ikut terapi, bakal jadi straight seterusnya?"

Hahahha.... Ya ngga laaaahhh..... Ngana pikir semudah itu. 
Kita liat gambar di bawah ini.



See..... Being gay itu anugerah dewa-dewi di langit ya. Apalagi kalo emang gay dari orok kayak aku ini. It's a gift. Kayak warna kulit kita, bentuk rambut kita. Sudah ada di gen kita. Misal aja nih ya variabelnya:
Gay bawaan = Rambut Keriting
Jadi straight = Rambut Lurus
Terapi = Bonding 

Nah, ngana yang rambutnya gak lurus ini ngebet banget pingin punya rambut lurus, ngana pergi lah  buat bonding rambut. Ya palingan hasil bondingan bener-bener lurusnya cuma bertahan dua tiga bulan. Gak selamanya. Apalagi kalo bondingnya di salon ecek-ecek sebulan juga udah ngejegak ke sana kemari. Trus balik lagi ke fitrah asli. Lagian ya, pasti keliatan lah mana yg asli lurus, mana yg ngruwel-ngruwel kayak jembrewi (emak-emak Papua banyak nih yang begini).


Ya daripada ngabisin duit buat ikutan terapi yg hasilnya gak permanen, cuma temporari, mending udah lah syukuri diri aja. Terima jati diri sebagai gay. Berusaha menjadi gay kece yang baik. Gak usah memusingkan diri dan orang lain dengan krisis jati diri yang kamu alami. Apalagi kalo usaha terapi gak dibarengi sama tindakan nyata. Ikutan terapi tapi nyimpen brondong berkenti. Ya buat apa terapiiiii..... *toyor*

Udah ah, gak boleh ngomel-ngomel. Rusak deh ntar botox suntikan minggu kemaren.
Ciaaooobeelllaaa kobel kobel. 
Muach

*kasih lagu Who You Are - Jessie J*